Teriak Tanpa Suara: Saat The Voice of Hind Rajab Mengguncang Nurani, Kata Anies Baswedan

Dalam sebuah momen yang sarat keharuan, mantan Gubernur DKI dan tokoh publik Anies Baswedan menyampaikan apresiasinya usai menonton film The Voice of Hind Rajab. Baginya, film ini bukan sekadar hiburan melainkan kesaksian membawa nurani dunia ke layar lebar.

Kisah Hidup yang Direkam: Sudah Bukan Fiksi

The Voice of Hind Rajab adalah film docudrama garapan sutradara asal Tunisia, Kaouther Ben Hania, yang mengangkat kisah tragis nyata: seorang gadis Palestina bernama Hind Rajab. Saat tragedi melanda Gaza pada awal 2024, Hind terperangkap di dalam mobil dalam kondisi mengerikan sekelilingnya banyak anggota keluarga tewas, dan ia sendiri terpisah sendirian di tengah reruntuhan dan penembakan.

Film ini menampilkan rekaman asli panggilan darurat dari Hind kepada relawan Palestine Red Crescent Society sebuah suara kecil yang memohon tolong, berharap keajaiban dapat menyelamatkannya. Simultan, layar memperlihatkan upaya relawan: panggilan di‑center, koordinasi penyelamatan, kemacetan jalur ambulans dalam perang, dan ketegangan terus merayap.

Hasilnya sangat mengguncang saat penayangan perdana di Venice International Film Festival, film ini mendapat standing ovation selama 23 menit. Banyak penonton dan jurnalis sampai menangis di kursi mereka.

Suara Anies Baswedan: Film Ini “Bicara Kesaksian”

Reaksi Anies Baswedan terhadap film ini bukan komentar biasa. Baginya, The Voice of Hind Rajab menghadirkan “kesaksian” bukan drama dramatis semata, melainkan kebenaran yang memaksa dunia mendengar.

Menurut Anies, ini penting karena konflik berkepanjangan sering kali membuat korban nyata terutama anak-anak menjadi angka statistik. Film ini memanusiakan mereka, memberi wajah, suara, dan memaksa kita menghadapi realitas: tragedi itu terjadi, bukan karangan.

Dengan menonton film ini, menurut Anies, kita diingatkan bahwa setiap nyawa memiliki kisah panjang, pedih, kadang tragis dan kita tidak boleh membiarkan suara itu hilang dalam debu perang dan politik.

Resonansi Global: Seni, Empati, dan Tanggungjawab Publik

The Voice of Hind Rajab bukan film kecil. Selain mendapat standing ovation di Venice, film ini juga diangkat sebagai wakil Tunisia untuk bersaing di kategori Best International Feature Film dalam Academy Awards 2026.

Partisipasi eksekutif produser ternama termasuk nama‑nama besar dunia perfilman menunjukkan film ini punya bobot serius. Film tidak hanya tentang hiburan; ia adalah medium untuk memanggil rasa kemanusiaan, solidaritas global dan kesadaran bahwa di balik setiap tragedi, ada manusia: anak, ibu, ayah, keluarga, yang punya nama, harapan, ketakutan.

Bagi penonton di Indonesia dan dunia, film ini bisa jadi gerbang untuk memahami penderitaan rakyat Palestina dari sudut pandang kemanusiaan jauh dari politik dan ideologi.

Kenangan yang Tak Boleh Dilupakan Kritik, Duka, dan Tanggungjawab Moral

Tentu saja, menyaksikan film ini bukan pengalaman nyaman. Banyak kritik melihat bahwa penggunaan suara asli seorang anak yang tewas bisa dianggap eksploitasi “tear‑jerker tactics” yang memancing emosi penonton.

Tapi sutradara dan tim produksi menegaskan bahwa pilihan itu dilakukan atas persetujuan keluarga Hind, sebagai bentuk penghormatan terhadap korban dan sebagai upaya menjaga kebenaran agar tidak hilang dalam narasi perang.

Film ini menjadi panggilan keadilan bahwa kita, sebagai bagian dari komunitas global, punya tanggungjawab moral untuk mendengar. Untuk tidak tinggal diam.

Ketika Layar Menjadi Cermin Ingat, Empati Itu Nyata

The Voice of Hind Rajab menunjukkan bahwa film bisa jauh lebih dari hiburan. Ia bisa menjadi cermin bagi kemanusiaan. Dan ketika tokoh publik seperti Anies Baswedan menyuarakannya, pesan itu bisa sampai ke lapisan masyarakat luas mengundang refleksi, empati, dan kesadaran.

Karena di balik konflik, di balik angka dan statistik ada manusia kecil seperti Hind yang suaranya mungkin hanya terdengar di dalam film, tapi pantas didengar oleh dunia.

Semoga semakin banyak penonton yang berani menonton, mendengar, dan yang paling penting bertindak.