Anies Baswedan di Reuni UGM Memicu Ribut Netizen: Ijazah Alumni Jadi Sorotan Hebat!

Jakarta – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru-baru ini menghadiri reuni besar lintas angkatan alumni Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) yang digelar di ibukota pada 28 Desember 2025. Acara yang mempertemukan generasi alumni dari era mahasiswa hingga aktivis kemahasiswaan terkini ini menarik perhatian publik luas, bukan hanya karena kehadiran Anies sebagai alumnus ternama, tetapi juga karena berbagai reaksi netizen yang muncul belakangan.

Reuni lintas angkatan ini bukan sekadar temu kangen biasa. Dalam pertemuan tersebut, Anies menyampaikan pandangannya mengenai sejarah organisasi mahasiswa di UGM dan arah masa depan gerakan mahasiswa di Indonesia. Ia mengingat kembali bahwa sejak dekade 1970-an, kampus tak lagi memiliki organisasi mahasiswa di tingkat universitas setelah dibubarkannya Dewan Mahasiswa pada 1978 oleh rezim Orde Baru. Menurutnya, sejak saat itu struktur kepemimpinan mahasiswa hanya diperbolehkan di tingkat fakultas melalui Badan Perwakilan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa, sementara kegiatan di tingkat universitas lebih berfokus pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berbasis minat dan bakat.

Anies, yang selama ini dikenal luas di kalangan politik dan pendidikan, memanfaatkan kesempatan reuni itu untuk berbagi pandangan tentang pentingnya sejarah organisasi mahasiswa demi pemahaman yang lebih baik tentang peran mahasiswa dalam masyarakat. Menurutnya, reuni lintas angkatan seperti ini mempertemukan kreativitas pemikir pertama yang menyusun kerangka organisasi kepemimpinan mahasiswa pada tahun 1990 bersama para aktivis baru yang kini aktif di berbagai lini kampus. Hal ini, katanya, bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga membangun dialog bagi masa depan.

Dalam pidatonya yang penuh nostalgia, Anies menyampaikan rasa terima kasihnya kepada panitia dan peserta reuni BEM UGM atas undangan tersebut. “Sebuah pertemuan yang guyub, bukan saja membahas kisah masa lalu, tetapi juga soal masa depan gerakan mahasiswa di kampus dan di masyarakat,” ujar Anies yang dikutip dari unggahan di akun sosial medianya.

Namun, momen kehadiran Anies ini mendadak viral di media sosial karena komentar para netizen yang ramai membahas soal ijazah alumni. Di beberapa unggahan dan thread diskusi daring, netizen memperbincangkan ijazah para alumni UGM yang hadir, dengan frasa kunci seperti “ijazahnya asli semua bah?”, menjadi bagian dari percakapan yang memicu beragam respons di jagat maya. Banyak komentar bercampur antara candaan, dukungan, dan kritik, yang kemudian membuat isu tersebut menjadi viral.

Fenomena ini terjadi di tengah diskusi publik yang lebih luas seputar keabsahan ijazah tokoh nasional lain, termasuk polemik lama yang pernah menyeret nama Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Misalnya, pada reuni alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980, Jokowi sempat menghadapi komentar di media sosial terkait ijazahnya. Isu tersebut bahkan sempat memicu perdebatan di kalangan netizen dan media, meskipun kampus dan pihak berwenang telah memberikan klarifikasi terkait dokumen tersebut.

Namun berbeda dengan polemik ijazah yang pernah menyita perhatian publik di lingkungan lain, diskusi tentang keaslian ijazah alumni di reuni BEM UGM ini lebih bersifat reaksi netizen terhadap momen kebersamaan berbagai generasi alumni, tanpa bukti atau klaim resmi yang mendalam. Walau begitu, respons publik menunjukkan bagaimana isu akademik bisa cepat melebar menjadi bahan perbincangan di luar konteks awalnya, terutama ketika melibatkan figur yang dikenal luas.

Selain menyentuh topik sejarah organisasi mahasiswa dan dinamika alumni, reuni itu juga menjadi ajang bagi para mantan aktivis untuk saling bertukar cerita tentang pengalaman mereka di kampus serta harapan mereka terhadap kontribusi mahasiswa di luar lingkungan akademik. Banyak dari mereka menilai bahwa momentum semacam ini penting untuk menjalin kembali jaringan antar alumni, serta mengingatkan generasi muda tentang peran sejarah dalam membentuk sikap dan kemampuan kepemimpinan di era kontemporer.

Reuni lintas angkatan UGM menjadi bukti kuat bahwa tradisi akademik dan persaudaraan alumni memiliki daya tarik yang kuat bagi publik luas, terutama ketika dihadiri tokoh yang dikenal secara nasional. Kehadiran Anies Baswedan di acara tersebut sekaligus menegaskan posisinya sebagai alumnus UGM yang tetap aktif berinteraksi dengan komunitas almamaternya.

Terlepas dari kontroversi sesaat di media sosial, banyak yang melihat reuni ini sebagai momentum positif yang menghubungkan generasi lama dan baru, serta menguatkan ikatan komunitas di kalangan alumni. Diskusi yang muncul, baik di forum resmi maupun di ruang publik daring, menandakan bahwa pertemuan semacam ini memiliki resonansi luas dan bisa menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi civitas akademika terhadap isu-isu sosial dan pendidikan di masa depan.

Akhirnya, momen reuni BEM UGM dengan kehadiran Anies Baswedan dan respons netizen ini menunjukkan bahwa persoalan sejarah, akademik, dan identitas alumni selalu menarik perhatian masyarakat luas bahkan ketika itu bermula sebagai reuni sederhana yang mempertemukan lintas generasi.